Mari Membaca Rontgen

Rontgen sebagai suatu sarana diagnostik penting untuk kita ketahui, terutama bagi praktisi kesehatan layaknya seorang dokter. Saya jujur saja juga seringkali mengalami kesulitan saat menemui rontgen-rontgen yang hitam putih itu, kebanyakan gambarnya sama dan mirip-mirip. Alhasil yang saya lakukan hanyalah menebak-menebak sambil bingung sendiri (gak pake garuk-garuk kepala ya^^).  saya kan juga masih belajar… itu tuh alasannya. heheee

Tapi, mau tidak mau yah kita mesti berusaha untuk manjadi familiar dengan si mr. rontgen ini, harus bisa githu meski dikit-dikit aja.. Nah, oleh karena disebabkan oleh itulah, saya berusaha menyusun cara sistematik buat membaca rontgen, ringkasnya gini..

PERTAMA

Sebelum lebih jauh membaca dan mentelaah suatu foto rontgen,  kita harus memastikan terlebih dahulu kelengkapan IDENTITAS foto rontgennya. Nama, umur, jenis kelamin, nomor foto, tanggal foto dan klinisnya. Harus dipastikan supaya tidak tertukar. Setelah lengkap dan jelas barulah kita memusingkan kepala kita dengan menerawang lalu membacanya. okeh !

KEDUA

tapi……..  sebelum kita baca (lagi-lagi) pastikan dulu, foto tersebut LAYAK BACA atau tidak. Beberapa foto dengan kualitas yang tidak baik sebaiknya tidak kita baca untuk menghindari misinterpretasi. Seperti misalnya, foto yang terlalu keras, yang terpotong, posisinya tidak baik, inspirasi kurang  (inspirasi cukup jika costa 6 memotong hemidiafragma di tengah) dll. Untuk menghindari kesalahan pembacaan, kita bisa minta ulang fotonya.

KETIGA

Mari Membaca. Untuk tulisan ini, kita fokuskan pada foto rontgen thorak saja…

Tentukan posisi foto terlebih dahulu. Yang penting pada foto thorak adalah apakah posisi pengambilan foto adalah AnteroPosterior (AP) atau PosteroAnterior (PA). Karena posisi foto akan sangat mempengaruhi pembacaannya. Foto AP berarti sinar X berasal dari bagian depan tubuh dan film berada di belakang. Sementara foto PA berarti sinar X ada di belakang dan film berada di bagian depan tubuh. Hal ini penting, karena semakin jauh letak organ dari film maka gambaran foto yang didapat akan termagnifikasi (diperbesar) sehingga tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya. So… yang lebih mendekati keadaan organ yang sebenarnya adalah foto PA (jika kita menilai jantung dan paru, karena lebih dekat ke film).

Nah, bagaimana membedakan foto AP atau PA?

Pada foto AP clavicula akan tampak mendatar, scapula berada di dalam lapangan paru, dan yang tampak depan adalah costae anterior. Sedangkan pada foto PA yang tampak depan adalah costae posterior, clavicula menjungkit, dan scapula berada di luar lapangan paru.

Selanjutnya….

KEEMPAT

Untuk membaca foto rontgen prinsipnya adalah membandingkan keadaan kiri dan kanan, jadi jika kita melihat suatu keadaan di bagian kanan maka bandingkan dengan bagian kirinya. Selanjutnya untuk pembacaan dapat dilakukan dari dalam ke luar atau dari luar ke dalam (saya sih lebih suka dari luar ke dalam… ><). Tulisan ini dari pembacaan dibuat luar ke dalam yah,,,

Pertama perhatikan soft tissuenya terlebih dahulu, apakah terdapat soft tissue swelling atau tidak. Soft tissue swelling bisa terjadi misalnya pada trauma, tumor, dll.

Kemudian nilai tulang-tulang, intak atau tidak. Apakah ada kelainan, fraktur, destruksi, dan lainnya. Fraktur bisa kita lihat dari putusnya kontinuitas jaringan tulang. Dari gambaran rontgen ini dapat pula kita nilai jenis frakturnya. Destruksi bisa terjadi misal akibat metastasis tumor ganas ke tulang sehingga tulang menjadi tidak utuh bahkan bisa hilang. Gambaran metastasis yang ada dapat berupa gambaran radiolusen (hitam) atau radioopaque (putih) yang abnormal pada gambaran tulang. Kelainan, misalnya lordosis, kifosis, atau scoliosis pada vertebrae yang juga bisa kita nilai lewat foto rontgen.

Mediastinum dinilai normal atau tidak, apakah terdapat pembesaran atau tidak. Misal, adanya tumor pada mediastinum akan menampakkan gambaran mediastinum yang melebar atau tampak adanya massa pada mediastinum. Trakea juga dapat kita nilai. Trakea yang normalnya berada di tengah, bisa mengalami pergeseran akibat desakan atau proses-proses lain.

Pleura, bagaimana sudut costofrenikusnya, lancip atau tumpul, normalnya lancip. Sudut costofrenikus yang tumpul dapat menandakan suatu efusi pleura. Bisa juga berupa suatu perselubungan atau massa yang belum bisa ditentukan. Sehingga untuk lebih jelasnya kita bisa melihat foto lateralnya. Jelasnya, lokasi sudut costofrenikus lihat di gambar di bawah ini,,,

Sketsa Thorak Normal

 

Kemudian nilai juga parenkim paru, keadaan hilus, corakan bronkovaskuler, dan apakah terdapat lesi atau tidak. Hilus merupakan tempat keluar masuknya arteri dan vena pulmonalis, bronkus, dan juga saluran limfe. Normalnya diameter hilus sama dengan diameter trakea. Pada foto rontgen, hilus memberikan gambaran yang padat. Untuk corakan bronkovaskuler, normalnya hanya terdapat pada 1/3 lapangan paru dari central pada dewasa, sedangkan pada anak hanya 1/4 dari lapangan paru. Corakan bronkovaskuler yang meningkat dapat menjadi suatu tanda suatu proses perandangan paru misalnya pada bronkitis, pneumonia, dll. Kemudian lesi pada parenkim paru. Terdapat banyak gambaran lesi yang mungkin terjadi. Misal pada Tuberkulosis (TB) bisa terdapat gambaran infiltrat, fibrotik, kavitas, dan lain-lain. Proses TB aktif ditandai dengan adanya lesi kavitas atau infiltat. Sementara bekas TB lama atau yang sudah tidak aktif lagi bisa tampak gambaran fibrotik berupa garis-garis radioopaque dengan batas yang tegas. Bisa juga tampak gambaran metastasis pada parenkim paru dengan adanya bentukan-bentukan lesi yang noduler, milier, koin, cannon ball, dll… (masalah lesi pada parenkim paru buanyakkk sangat,,, lengkapnya silahkan browsing lebih lanjut, okeh ! )

Selanjutnya jantung, nilai besar dan ukurannya, normal atau tidak. Ukuran bisa kita nilai dengan menghitung CTR (Cardio Thoracic Ratio), normalnya pada orang dewasa adalah 48%-50%, sedangkan pada anak-anak sebesar 52%-53%. Cara menghitungnya adalah a + b : c. Jelasnya lihat gambar …

CTR

 

Selanjtnya, diafragma, apakah terdapat elevasi, bagaimana bentuknya, dan permukaannya  licin atau tidak. Diaframga letak tinggi misalnya bisa disebabkan oleh desakan massa dari bawah, paralisis  m. diafragmatika atau lumpuhnya n. phrenicus…

 

Hufffff……… sekian dulu,, chit-chat kita mengenai baca-baca rontgen ya… mungkin lain kali disambung lagi (cieee… hahaaa :D ),, semoga bermanfaat ^^V


About this entry