Untuk BUNDA . . .

“Bunda, kapan pulang ya ?…”

Hujan…

Kukira sekarang di luar memang  sedang turun hujan. Kira-kira itu informasi yang disampaikan kedua telingaku. Rintik hujan yang  kini tengah  menetes perlahan dengan anggunnya. Pelan namun iramanya terdengar nyaman, tidak bising dan mengganggu. Jatuh dengan anggun, tak kalah anggunnya dengan para bintang sinetron ternama yang seringkali wara-wiri di depan tivi 14 inci dalam kamarku ini. Kalau saja aku tidak malas keluar pastilah menyenangkan memandang tetesan yang jatuh bagai butir-butir kaca itu. Tapi sayangnya aku sedang malas, capek…

Aku jadi teringat lirik lagu yang kira-kira berlirik “Hujan kau ingatkan aku, tentang satu rindu, dimasa yang lalu, saat mimpi indah masih bersamaku…”

Entahlah, memang seringkali jika terdengar suara tetesan tanda sayangnya langit pada bumi itu seringkali aku juga teringat pada Bunda… Soalnya, kata guruku dulu waktu masih SD, hujan itu anugrah. Hujan itu Rahmat dari Sang Pencipta. Katanya, kalau tidak ada hujan padi tidak bisa tumbuh kan? Terus ayam tidak bisa minum.  Jadi kalau tidak ada hujan, kita tidak bisa makan nasi + ayam goreng dong berarti… Itu mah kata guru SD Ku dulu. Tapi memang bener sih. Kata-kata Ibu Guruku tersayang itulah yang mampu menggugah hati seorang anak kecil yang tidak mau tahu kalau hujan turun mengganggu jadwal mainnya. Yah, penjelasan yang berbisik pada ego masa kecilku bahwa tidak boleh marah pada hujan karena hujan itu tanda sayangnya langit pada bumi dan makhluk-makhluk hidup yang berseliweran diatasnya. Mirip seperti kasih sayangnya Bunda. Kasih sayang yang katanya sepanjang masa, persis hujan yang sudah ada sejak bumi masih sangat muda. Yah meskipun Bunda sering marah-marah…

33132486922552l1.jpgTapi kenyataannya menurutku memang begitu. Sekarang diwaktu aku sudah sebesar ini aku jadi tahu kalau hujan itu memang tanda kasihnya Allah. Di Q.S. An-Naba : 14-16 dikatakan bahwa hujan itu diturunkan dari awan-awan untuk ditumbuhkan biji-bijian dan tanaman serta kebun-kebun yang rindang. Tanda sayangnya untuk semesta alam maka sepatutnyalah kita bersyukur… Al-Qur’an pun mengungkapkannya dengan indah, salah satunya lewat surat  Ar-Rahman ayat 13. Bahasanya langitnya “maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” Untung Bunda memasukkan aku di pesantren. Iya sih, aku banyak belajar disana meskipun awalnya dengan prasangka buruk bahwa Bunda tidak sayang lagi padaku…

Kira-kira sedang apa ya Bunda sekarang? Kalau menurut versi jam dinding kamarku ini sekarang sudah jam 9 malam. Bunda lagi ada dimana ya sekarang? Dari dulu memang begini, Bunda selalu lupa kalau pergi kerja. Padahal kan perginya sudah dari pagi tapi sampai sekarang belum terdengar tanda-tanda pulangnya. Padahal juga sudah 5 kali kukirim sms dari sore tadi. Padahal juga sudah kutulis kalau malam ini aku buatkan Bunda makan malam spesial jadi seharusnya Bunda makan malam di rumah, mumpung aku masih libur… Bunda, Bunda… where are you now…???

Kurasa sekarang hujannya sudah berhenti. Tak kudengar lagi rangkaian tetesan yang tadinya berjatuhan. Sekarang yang kudengar malah suara jangkrik-jangkrik yang sahut-sahutan dibarengeri suara sayup-sayup suara tetangga sebelah yang sepertinya sedang menonton tivi. Jam dinding juga rasanya berdetak lebih keras. Tapi tetap saja suara mobil Bunda belum juga terdengar…

Bunda…

Bundaku itu seorang wanita karir. Sering lembur jadi sering juga pulang malam. Ia juga cantik, terlebih karena jilbabnya… Dulu waktu Bunda belum pakai jilbab, rasanya tidak secantik sekarang. Bundaku itu anggun, wanita yang tegas dan tegar. Dialah yang membesarkanku sampai sekarang sejak ayah meninggal sewaktu aku masih kecil dulu. Bagiku, Bundaku itu adalah seorang wonder woman.

33132486922552l1.jpgKemarin-kemarin di kereta saat perjalanan pulang ke rumah, mudik istilahnya, aku menemui berbagai tipe bunda-bunda yang lain. Dari sketsa singkat di kereta itu aku melihat beberapa cerminan hati beberapa makhluk Tuhan yang bernama manusia dan bertitel bunda. Kurasa ada beberapa hal yang bisa aku mengerti darinya…

Pertama kulihat adalah dua orang pengamen cilik yang tanpa peduli meyanyikan lagu salah satu grup band yang aku lupa namanya, hanya pernah terdengar beberapa kali. Kombinasi suara sumbang mereka berdualah yang membelah keramaian stasiun hingga indra pendengaranku beralih fokus pada duet unik itu. Kupandangi mereka, dan tanpa sadar ketika mereka menyodorkan bekas bungkus permen kosong padaku kutanya siapa nama mereka. Katanya Amir dan Isma. Kutanya lagi apa mereka sekolah, mereka menggeleng. Akhirnya kutanya, dimana orang tua mereka. Mereka menjawab tidak tahu. Mungkin karena mereka melihatku bingung, mereka menjelaskan lagi kalau mereka dibuang sewaktu masih kecil, dibuang di tong sampah pada waktu dan tempat yang berbeda. Ditemukan oleh preman-preman pasar, dibesarkan dengan imbalan bekerja untuk mereka. Aku tambah tercengang mendengarnya. Mendengar kata-kata lugas tanpa malu dan ragu yang terucap dari bibir kedua anak dihadapanku ini. Kutebak mungkin jauh di dalam sudut hati mereka ada rasa sedih dan kecewa. Namun, mungkin tertutupi dengan sempurna oleh rasa marah yang akhirnya berbingkai ketidakperdulian. Saat itu, aku hanya bisa tersenyum dan menyatakan simpatiku dengan mengganti uang seribuan yang tadinya kupegang dengan uang sepuluhribuan yang lalu kusodorkan pada mereka berdua.

Bunda aku bersyukur memiliki Bunda. Aku tahu Bunda tidaklah sempurna. Sama seperti manusia lainnya, Bunda juga punya kekurangan. Tapi aku bersyukur Bunda. Bunda mau membesarkan aku. Membesarkan dan merawatku sampai aku besar, dan ternyata memang tak pernah terdengar olehku keluh kesahmu. Aku tahu Bunda, kasih sayang Bunda padaku penuh dengan keikhlasan. Bunda menerima kehadiranku dengan penuh senyum dan kebahagiaan. Aku tahu Bunda, marah dan tegurmu juga adalah untuk kebaikanku. Terima kasih Bunda. Terima kasih untuk semua kasih dan sayangmu. Kasih sayang yang ku tahu tak kan pernah bisa tergantikan…

33132486922552l1.jpgDi kereta, aku duduk berhadapan dengan seorang laki-laki, seorang anak kecil dan seorang perempuan tua. Sepertinya, perempuan tua itu ibu si laki-laki. Kereta terus melaju. Ketika kurasa aku baru saja tertidur, tiba-tiba terdengar bentakan yang mengagetkanku. Ternyata si laki-laki membentak perempuan tua itu. Entah apa masalahnya, aku tidak tahu karena tadi sempat tertidur sejenak. Yang aku tahu, tak lama laki-laki itu bangkit dan keluar dengan wajah marah. Tertangkap pula oleh mataku, ia sempat menendang kaki sang perempuan tua yang sebenarnya tidak terlalu menghalangi jalan. Entah, aku yang masih setengah sadar juga sepertinya jadi linglung. Di tengah masa trans-ku itu, sang perempuan tua itu tersenyum padaku. Ia bilang ‘tidak apa-apa nak, tidur saja lagi’. Kubalas senyumnya, sempat kulihat binar sedih dimatanya namun kurasa aku juga bisa melihat sinar ketulusan dan doanya pada sang anak..

Bunda, pernah terdengar olehku, di sela doamu, Bunda menyebutkan namaku. Kurasa saat itu yang Bunda mohonkan adalah kebaikanku. Pernah juga tertangkap oleh mataku, Bunda memandangku dengan tulus dari balik kejernihan matamu itu. Bunda, aku tahu, di setiap detikmu, Bunda selalu memikirkan aku. Di setiap cemasmu, ku tahu yang paling Bunda cemaskan adalah aku. Tapi aku juga tahu Bunda. Banyak sekali salah dan tingkahku yang sering membuat Bunda marah. Maafkanlah anakmu ini Bunda. Padahal aku juga tahu, dalam setiap marahmu selalu terselip doa untukku…

21.30 WIB

“Bunda… belum pulang juga ya sekarang …”

33132486922552l1.jpgNamanya Vina, seorang temanku di pesantren. Cantik dan pandai, kurasa  kombinasi yang kloplah. IQ oke, tapi EQ agak kurang. Dugaanku dulu dimasukan pesantren supaya EQ-SQnya naik beberapa derajat. Teman satu perjuanganku ini lahir dari keluarga pecah belah. Entah karena kesibukan kedua orang tuanya atau karena hal lain, ia kini terdampar di Ponpes Miftahuljannah. Sebenarnya tak pernah kutanyakan secara jelas, aku tahu karena setiap kali aku ataupun teman-temanku yang lain bercerita tentang keluarga kami, ia selalu saja menghindar. Entahlah…  Satu hal lagi yang bisa kusimpulkan, ia dari keluarga yang berada.

Kebalikannya, Kirana namanya. Dia ini temanku nan lugu dari desa, sangat ramah dan rendah hati. Dibesarkan oleh Ibunya yang juga hanya tinggal sendiri seperti Bundaku. Tiap kali ia bercerita tentang Ibunya aku selalu bisa melihat air mata yang menggenang di kedua sudut matanya. Ia bilang ia mau melakukan apa pun untuk Ibunya itu. Ia selalu bilang padaku ingin keluar dari pesantren, bekerja membantu sang Ibu membesarkan adik-adiknya. Tapi apa daya, Sang Ibu mengatakan kebahagiaannya ada pada kesuksesan akan-anaknya. Ia akan bangga pada anak-anaknya yang terus melangkah maju. Biarlah ia berdiri tegak menopang mereka dan bantulah ia cukup hanya dengan doa… Aku juga tahu Kirana-ku ini tak pernah henti-hentinya mendoakan Ibunya tersayang…

Bunda, aku juga tidak pernah lupa mendoakan Bunda… Aku tahu Bunda bekerja juga untuk diriku…

22.10 WIB

Kurasa sekarang Bunda sedang dalam perjalanan pulang.

Bundaku, anakmu ini akan selalu menunggumu. Anakmu ini tahu, semua yang Bunda lakukan adalah untuk aku. Anakmu ini tahu, disetiap doamu selalu ada nama Dinda yang Bunda sebut. Bunda, Dinda sangat  sayang pada Bunda…

33132486922552l1.jpgBunda, Dinda tahu. Bunda sayang Dinda melebihi apapun. Yang Bunda inginkan hanyalah kebaikan bagi Dinda. Bunda sayang Dinda dengan semua sikap Bunda, dengan sepenuh hati Bunda. Karena itu, Dinda juga akan sayang Bunda dengan sepenuh hati Dinda. Karena Dinda sayang Bunda, Dinda cinta Bunda karena Allah…

Dinda janji Bunda. Doa akan selalu terucap untuk Bunda. Dinda janji, Dinda akan jadi anak Bunda yang bisa membuat Bunda tersenyum sampai di syurga kelak. Dinda janji Bunda, untuk Bunda, Dinda akan selalu mengusahakan yang terbaik…

Brrummmm… Brrummm…

Akhirnya sensor suaraku menangkap bunyi yang dinanti-nantikan itu… Bunda pulang.

Tak lama terdengar salam ‘assalammualaikum…’ tak ragu ku jawab ‘waalaikumsalam Bunda’

Bergegas ku ke pintu depan…

“Bunda… whatever-lah… Dinda akan selalu sayang Bunda”

—The End—


About this entry