ENDOMETRIOSIS

  1. 1. Definisi

Merupakan suatu infeksi pada  endometrium / desidua yang dapat meluas ke miometrium dan jaringan-jaringan parametrium serta merupakan penyebab demam paling sering pada postpartum.

  1. 2. Klasifikasi

Berdasarkan populasi :

–        Obstetric

–        Nonobstetric

Berdasarkan kondisi patologis :

–        Akut

Ditandai dengan adanya neutrofil pada kelenjar-kelenjar endometrium. Agen penyebab tersering adalah Staphylococcus aureus dan Streptococcus.

–        Kronis

Ditandai dengan adanya sel plasma dan limfosit pada stroma endometrium. Agen penyebab tersering adalah PID, tuberculosis, dan chlamydia. Sering disertai ca serviks atau endometrium.

  1. 3. Epidemiologi:

Insiden bervariasi tergantung pada proses presalinan dan populasi pasien.

Pervaginam        :   1-3%

Cesar                     :   13-90%    ( bergantung  pada  faktor   risiko lainnya   dan  ada atau tidaknya

antibiotik profilaksis sebelum prosedur)

  1. 4. Etiologi

–        PID (pelvic inflamatory disease)

–        Perluasan  ascending infeksi dari lower genital tract

–        Prosedur ginekologis invasif

–        Infeksi (chlamydia, tuberculosis,  bacterial vaginosis, dan intrauterine device­)

–        Organisme penyebab yang umumnya ditemukan Ureaplasma urealyticum, Peptostreptococcus, Gardnerella vaginalis, Bacteroides bivius, and group B Streptococcus

–        Chlamydia berhubungan dengan late-onset postpartum endometritis

–        Enterokokus  berhubungan dengan 25% wanita yang menerima profilaksis Sefalosporin

  1. 5. Faktor resiko:

–        Wanita dalam usia reproduksi

–        cesarean delivery

–        long labor with multiple vaginal examinations

–        extremes of patient age

–        low socioeconomic status

–        maternal anemia

–        prolonged internal fetal monitoring

–        prolonged surgery

–        general anesthesia

  1. 6. Manifestasi klinis:

–     Demam

–     Lower abdominal pain

–     Foul-smelling lochia (sekret vagina yang berlangsung pada minggu pertama atau kedua setelah persalinan) in the obstetric population

–     Abnormal vaginal bleeding

–     Abnormal vaginal discharge

–     Dyspareunia (dapat terjadi pada pasien dengan PID)

–     Dysuria (dapat terjadi pada pasien dengan PID)

–     Malaise

  1. 7. Mekanisme (patofisiologi):


v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Cambria Math”; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face {font-family:Calibri; panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:””; margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:10.0pt; margin-left:0cm; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-ansi-language:EN-US; mso-fareast-language:EN-US;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; font-size:10.0pt; mso-ansi-font-size:10.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-hansi-font-family:Calibri;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>


/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;}

  1. 8. Yang ditemukan pada pemeriksaan fisik:

–     Demam, biasanya terjadi dalam 36 jam postpartum pada obstetric population

–     Lower abdominal pain

–     Uterine tenderness

–     Adnexal tenderness jika berhubungan dengan salpingitis

–     Foul-smelling lochia

–     Tachycardia

  1. 9. Yang ditemukan pada pemeriksaan Lab:

–        CBC à  leukositois

–        Blood culture (+) pada 10-30% kasus

–        Kulture urin

–        Kultur endocerviks (DNA probe) untuk mengidentifikasi gonorrhea dan Chlamydia

–        Kultur spesimen endometrium untuk mengidentifikasi kontaminasi dari flora normal cervikovaginal

  1. 10. Pemeriksaan penunjang lain:

–        Imaging , pada pasien yang tidak memberikan respon terhadap terapi antimikroba dalam 48-72 jam

–        CT scanning pada abdomen dan pelvis dapat membantu untuk mengeklusi broad ligament masses, septic pelvic thrombophlebitis, ovarian vein thrombosis, and phlegmon.

–        USG pada abdomen dan pelvis memberikan gambaran normal pada pasien endometritis

–        Biopsi endometrium, dapat digunakan untuk menilai endometritis kronik pada nonobstetric population.

  1. 11. DD/

–        Appendicitis

  • Merupakan peradangan pada appendiks
  • Nyeri abdomen
  • Nyeri periumbilical atau epigastric yang menyebar ke kuadran kanan bawah abdomen
  • Mual, muntah, anoreksia
  • Tenderness pada palpasi titik McBurney

–        Pelvic Inflammatory Disease

  • Merupakan suatu inflamasi uterus, tuba fallopi, dan struktur pelvis lainnya
  • Gejala bervariasi mulai dari nyeri abdomen bawah sampai dysuria
  • 75% terdapat Abnormal vaginal discharge
  • 40% terdapat Unanticipated vaginal bleeding
  • Demam, mual, muntah
  • WBC pada pemeriksaan mikroskopik sekresi vagina
  • LED ↑
  • CRP ↑
  1. 12. Penatalaksanaan:

Antibiotik :

–        Setelah terdiagnosis dilakukan pemberian antibiotik broad-spectrum, 90% membaik dalam 48-72 jam.

–        Pada kasus yang tidak terlalu parah dapat diberikan secara oral

–        Terapi kombinasi dengan clindamycin dan aminoglycoside (gentamicin) merupakan terapi standar

–        Kombinasi ampicillin, gentamicin, dan metronidazole digunakan pada serious pelvic infections

–        Doxycycline digunakan bila penyebab endometritis adalah Chlamydia

–        Ampicillin sulbactam dapat digunakan pada monoterapi. Single-agent therapies diketahui efektif pada 80-90% pasien

Dosis :

  • Clindamycin (Cleocin)

Adult               : 900 mg IV q8h

Pediatric         : 20-40 mg/kg/d IV divided q6-8h

  • Gentamicin (Gentacidin, Garamycin)

Adult               : 1.5 mg/kg IV q8h

Pediatric         : 2-2.5 mg/kg/d IV q8h

  • Ampicillin (Omnipen, Marcillin)

Adult               : 2 g IV q6h

Pediatric         : 50-200 mg/kg/d IV divided qid

  • Metronidazole (Flagyl)

Adult               : 500 mg IV q6h

Pediatric         : 15-30 mg/kg/d IV divided bid/tid

  • Ampicillin/sulbactam sodium (Unasyn)

Adult               : 3 g IV q6h

Pediatric         : 1.5-3 g IV q8h

  • Doxycycline (Bio-Tab, Doryx, Vibramycin)

Adult               : 100 mg PO/IV q12h

Pediatric         : <8 years: Not recommended

>8 years: 1-2 mg/lb PO/IV q12h

  • Ertapenem (Invanz)

Adult               : 1 g qd for 14 d if given IV and 7 d if given IM; infuse over 30 min if         given IV

Pediatric         : Not established

  1. 13. Prognosis dan komplikasi

Prognosis             :

90% pasien dengan terapi yang tepat menunjukan perbaikan dalam  48-72 jam

Komplikasi           :

–     Puerperal morbidity, dalam 2 – 10 hari postpartum temperatur tubuh mencapai 100,4 °F (38°C) atau lebih terutama bila dalam 24 jam pertama postpartum.

–     maternal mortality

–     70-90% kasus menyebabkan salpingitis

–     Peritonitis

–     Adnexal infection

–     Parametrial phlegmon

–     Pelvic abscess

–     Pelvic hematoma

–     Septic pelvic thrombophlebitis


About this entry