KONTUSIO PARU

a)      Definisi

Kontusio paru adalah memar atau peradangan pada paru yang dapat terjadi  pada cedera tumpul dada akibat kecelakaan kendaraan atau tertimpa benda berat.

b)      Etiologi

–        Trauma toraks

–        Kecelakaan lalu lintas

–        Terjadi terutama setelah trauma tumpul toraks

–        Dapat pula terjadi pada trauma tajam dg mekanisme perdarahan dan edema parenkim

c)       Manifestasi Klinis

–        Dapat timbul atau memburuk dalam 24-72 jam setelah trauma

–        Dispnea

–        ↓ PO₂   arteri

–        Ronki

–        Infiltrat pada foto thoraks

–        Pada kondisi berat dapat disertai : sekret trakeobronkial yang banyak, hemoptisis, dan edema paru

Primary surveys

Primary surveys  à di TKP (ABCDE)

Yang dinilai :

A :

  • Kelancaran jalan napas
  • Jika penderita dapat berbicara mengindikasikan A-nya baik
  • Identifikasi kemungkinan-kenungkinan obstruksi A (eg oleh karena benda asing, fraktur tulang wajah, fraktur mandibula atau maksila, fraktur laring atau trakea, fraktur servikal)

B :

  • Melibatkan paru, dinding dada, dan diafragma à harus dievaluasi secara cepat
  • Dada penderita harus dibuka untuk melihat ekspansi pernapasan
  • Auskultasi untuk memastikan udara masuk ke paru-paru
  • Perkusi untuk menilai adanya udara atau darah pada rongga pleura
  • Inspeksi dan palpasi dapat menilai kelainan dinding dada

C :

  • Penilaian volume darah dan CO

–        Tingkat kesadaran :

akibat ↓ suplai darah ke otak, kesadaran ↓

–        Warna kulit (dapat membantu diagnosis hipovolemik) :

wajah yang pucat keabuan, kulit ekstrimitas yang pucat  menandakan hipovolemik

–        Nadi, periksa pada nadi yang besar eg. Femoralis, karotis untuk kekuatan, kecepatan, dan irama :

*  tidak cepat, kuat, teratur = normovolemi

*  cepat, kecil = hipovolemi

*  tidak teratur = biasanya gg jantung

*  tidak ditemukan = perlu resusitasi segera

  • Penilaian perdarahan à ada tidak perdarahan luar,,, perdarahan juga bisa terjadi di dalam/internal/tidak terlihat eg. Perdarahan pada rongga thoraks, abdomen, sekitar fraktur dari tulang panjang, retroperitoneal akibat fraktur pelvis, atau sebagai akibat luka tembus dada/perut

Secondary surveys

D : (sepintas bisa primary,,, tp selengkapnya bisa secondary)

  • Tingkat kesadaran, Ukuran dan reaksi pupil, Tanda – tanda lateralisasi, Tingkat/level cidera spinal :

Tingkat kesadaran dapat dinilai dengan GCS atau APVU.

Penurunan kesadaran dapat disebabkan :

–        ↓ oksigenasi  (hipoksia)  atau hipoperfusi  (hipovolemi) ke otak

–        Trauma langsung pada otak / trauma kapitis

–        Obat-obatan, alkohol

E : (secondary)

  • Pemeriksann head to toe,,,  periksa kemungkinan-kemungkinan trauma lain,,, jaga suhu tubuh pasien / cegah hipotermia (selimuti,dll)

d)      Faktor Risiko

–        Trauma toraks

–        Fraktur iga

e)      Patofisiologi

f)       Tatalaksana

Resusitasi  Awal

A :

  • Usaha untuk membebaskan A harus melindungi vertebra servikal
  • Dapat dengan chin lift atau jaw thrust
  • Dapat pula dengan naso-pharyngeal airway atau oro-pharyngeal airway
  • Selama memeriksa dan memperbaiki A tidak boleh dilakukan ekstensi, fleksi, atau rotasi leher
  • Pertimbangkan bantuan A definitif (krikotirotomi, ETT,dll) kl ragu berhasil

B :

  • Kontrol A pada penderita yang A tgg karena faktor mekanik, gg ventilasi, atau  ada gg kesadaran à bisa dengan intubasi ETT (oral/nasal) à jika ETT tidak bisa (karena KI atau masalah teknis),, bisa surgical A / krikotiroidotomy
  • Setiap penderita trauman,,, beri o₂,, jika tidak intubasi, bisa pakai sungkup

C :

  • Jika ada perdarahan arteri luar, harus segera DIHENTIKAN,, bisa dengan balut tekan atau dengan spalk udara. Jangan pakai Torniquet, karena dapat merusak jaringan dan menyababkan iskemia distal,, sehingga torniquet hanya dipakai jika ada amputasi traumatik
  • Jika ada gg sirkulasi pasang iv line (sekalian ambil sampel darah u/ diperiksa lab rutin dan  tes kehamilan).
  • Infus,,, RL / kristaloid lain 2-3 L ,,, jika tidak respon beri gol darah sesuai,,, kl dak ado ber gol O Rh – / gol O Rh + titer rendah à hangatkan dulu u/ mencegah hipotermia
  • Jangan beri vasopresor, steroid, bicarbonat natricus

Tambahan :

–        Monitor EKG

–        Pasang kateter urin dan lambung

–        Rontgen , dll.

Tujuan:

Mempertahankan oksigenasi
Mencegah/mengurangi edema

Tindakan : bronchial toilet, batasi pemberian cairan (iso/hipotonik), O2, pain control, diuretika, bila perlu ventilator dengan tekanan positif (PEEP > 5)

–        Intubasi ET untuk dapat melakukan penyedotan dan memasang ventilasi mekanik dengan continuous positive end-expiratory pressure (PEEP)

g)      Prognosis

Dengan diagnosis yang cepat dan penanganan yang tepat prognosisnya baik

h)      Komplikasi

–        Sindrom distres pernapasan pada dewasa


About this entry