OLIGOHIDRAMNION

  1. 1. Definisi :

–        Kurangnya jumlah amniotic fluid volume (AFV)

–        AFV < 500 ml pada usia gestasi 32-36 minggu

–        Single deepest pocket (SDP) < 2 cm

–        Amniotic fluid index (AFI) <  5 cm atau < 5 persentil

  1. 2. Epidemiologi:

US : merupakan komplikasi pada 0,5 – 5,5% kehamilan. Severe oligohydramnion terjadi pada 0,7% kehamilan.

  1. 3. Etiologi

Fetal :

–        Kromosom

–        Kongenital

–        Hambatan pertumbuhan janin dalam rahim

–        Kehamilan postterm

–        Premature ROM (Rupture of amniotic membranes)

Maternal :

–        Dehidrasi

–        Insufisiensi uteroplasental

–        Preeklamsia

–        Diabetes

–        Hypoxia kronis

Induksi Obat :

–        Indomethacin and ACE inhibitors

Idiopatik

  1. 4. Faktor resiko:

Wanita dengan kondisi berikut memiliki insiden oligohidramnion yang tinggi :

1. Anomali kongenital ( misalnya : agenosis ginjal,sindrom patter ).

2. Retardasi pertumbuhan intra uterin.

3. Ketuban pecah dini ( 24-26 minggu ).

4. Sindrom pasca maturitas

  1. 5. Manifestasi klinis:

1. Uterus tampak lebih kecil dari usia kehamilan dan tidak ada ballotemen.

2. Ibu merasa nyeri di perut pada setiap pergerakan anak.

3. Sering berakhir dengan partus prematurus.

4. Bunyi jantung anak sudah terdengar mulai bulan kelima dan terdengar lebih jelas.

5. Persalinan lebih lama dari biasanya.

6. Sewaktu his akan sakit sekali.

7. Bila ketuban pecah, air ketuban sedikit sekali bahkan tidak ada yang keluar.

  1. 6. Mekanisme (patofisiologi):

Fisiologi  Normal :

AFV meningkat secara bertahap pada kehamilan dengan volume sekitar 30 mL pada kehamilan 10 minggu dan mencapai puncaknya sekitar 1 L pada kehamilan 34-36 minggu. AFV menurun pada akhir trimester pertama dengan volume sekitar 800 mL pada minggu ke-40. Berkurang lagi menjadi 350 ml pada kehamilan 42 minggu; dan 250 ml pada kehamilan 43 minggu. Tingkat penurunan sekitar 150 mL/minggu pada kehamilan 38-43 minggu.

Mekanisme perubahan tingkat produksi AFV belum diketahui dengan pasti, meskipun diketahui berhubungan dengan aliran keluar-masuk cairan amnion pada proses aktif. Cairan amnion mengalami sirkulasi dengan tingkat pertukaran sekitar 3600 mL/jam.

3 faktor utama yang mempengaruhi AFV :

1)      Pengaturan fisiologis aliran oleh fetus

2)      Pergerakan air dan larutan didalam dan yang melintasi membran

3)      Pengaruh maternal pada pergerakan cairan transplasenta

Patofisiologi :

Secara umum, oligohidramnion berhubungan dengan :

Ruptur membran amnion / Rupture of amniotic membranes (ROM)

Gangguan congenital dari jaringan fungsional ginjal atau obstructive uropathy

–     Keadaan–keadaan yang mencegah pembentukan urin atau masuknya urin ke kantung amnion

–     Fetal urinary tract malformations, seperti renal agenesis, cystic dysplasia, dan atresia uretra

Reduksi kronis dari produksi urin fetus sehingga menyebabkan penurunan perfusi renal

–     Sebagai konsekuensi dari hipoksemia yang menginduksi redistribusi cardiac output fetal

–     Pada growth-restricted fetuse, hipoksia kronis menyebabkan kebocoran aliran darah dari ginjal ke organ-organ vital lain

–     Anuria dan oliguria

Postterm gestation

–      Unknown

–      Penurunan efisiensi fungsi plasenta, namun belum diketahui secara pasti

–      Penurunan aliran darah ginjal fetus dan penurunan produksi urin fetus

  1. 7. Pemeriksaan penunjang lain:

USG

Beberapa cara penentuan volume cairan amnion berdasarkan pemeriksaan USG :

1.       penilaian subyektif (visual)

2.       penilaian semikuantitatif (pengukuran diameter satu atau lebih kantung amnion)

3.       kombinasi kedua cara tersebut di atas

  1. 8. Penatalaksanaan:

Tindakan Konservatif :

1. Tirah baring.

2. Hidrasi.

3. Perbaikan nutrisi.

4. Pemantauan kesejahteraan janin ( hitung pergerakan janin, NST, Bpp ).

5. Pemeriksaan USG yang umum dari volume cairan amnion.

6. Amnion infusion.

7. Induksi dan kelahiran

Penatalaksanaan bergantung pada usia kehamilan :

Pre-term : mengevaluasi dan memonitor keadaan fetal dan maternal agar tetap dalam kondisi optimal

Aterm :Persalinan

Post-term : Persalinan

  1. 9. Prognosis dan komplikasi

Prognosis :

–          Semakin awal oligohidramnion terjadi pada kehamilan, semakin buruk prognosisnya

–          Jika terjadi pada trimester II, 80-90% mortalitas

Komplikasi :

–          Congenital malformations

–          Pulmonary hypoplasia

–          Fetal compression syndrome

–          Amniotic band syndrome

–          Abnormal fetal growth or IUGR

–          Decreased fetal blood volume, renal blood flow, and, subsequently, fetal urine output

–          Fetal morbidity

Akibat Oligohidramnion :

1. Bila terjadi pada permulaan kehamilan maka janin akan menderita cacat bawaan dan pertumbuhan janin dapat terganggu bahkan bisa terjadi partus prematurus yaitu picak seperti kertas kusut karena janin mengalami tekanan dinding rahim.

2. Bila terjadi pada kehamilan yang lebih lanjut akan terjadi cacat bawaan seperti club-foot, cacat bawaan karena tekanan atau kulit jadi tenal dan kering ( lethery appereance ).


About this entry