Anomali Refraksi

  1. Anatomi media refraksi

Bola mata diselubungi oleh lemak, tetapi terdapat selubung membranosa yang memisahkan bola mata dari lemak yaitu fascia bulbi. Mata terbagi menjadi dua segmen yaitu segmen anterior yang transparan dan merupakan 1/6 bagian bola mata dan segmen posterior yang merupakan 5/6 bagian bola mata.

Struktur yang terdapat pada mata dari anterior ke posterior yaitu konjungtiva, kornea, sclera, iris, akueus humor, lensa, badan siliar, vitreus humor, choroid, retina dan saraf optik.

2. Kelainan refraksi

Definisi

Gangguan refraksi (ametropia) merupakan gangguan yang terjadi dimana sinar parallel yang masuk pada mata yang tidak berakomodasi tidak terfokus pada retina. Yang termasuk gangguan refraksi yaitu myopia, hiperopia, astigmatisma, dan presbiopia.

Anisometropia adalah kelainan dimana perbedaan dioptri antara kedua mata signifikan (biasanya lebih dari 3 dioptri). Jika dikoreksi dengan kaca mata maka terjadi kesulitan fusi bayangan atau supresi  salah satu bayangan.

Miopia

Myopia adalah suatu keadaan mata yang mempunyai kekuatan pembiasan sinar yang atau kerusakan refraksi mata sehingga sinar sejajar yang dating dan dibiaskan di depan retina dimana system akomodasi berkurang. Pasien dengan myopia akan menyatakan melihat lebih jelas bila dekat sedangkan melihat jauh kabur atau pasien adalah rabun jauh. Pasien myopia mempunyai punctum remotum (titik terjauh yang masih dilihat jelas) yang dekat sehingga mata selalu dalam atau kedudukan konvergensi yang akan menimbulkan keluhan estenopia konvergensi. Bila kedudukan ini menetap maka penderita akan terlihat juling ke dalam esotropia akibat mata berkonvergensi terus menerus. Bila terdapat juling keluar mungkin fungsi satu mata telah berkurang atau terdapat ambliopia.

Pada mata dengan myopia tinggi akan terdapat kelainan pada fundus okuli seperti degenerasi macula, degenerasi retina bagian perifer, dengan myopic crescent pada papil saraf optic. Pengobatan pasien dengan myopia adalah dengan memebrikan kaca mata sferis negative terkecil dengan memberikan ketajaman penglihatan maksimal. Bila pasien dikoreksi dengan -3,0 memberikan tajam penglihatan 6/6, dan demikian juga bila diberi -3.25, maka sebaiknya diberikan lensa koreksi -3.0 agar untuk memberikan istirahat mata dengan baik sesudah dikoreksi.

Myopia dapat diklasifikasikan berdasarkan klinis, derajat, dan usia ketika terjadi. Berdasarkan klinis myopia dibedakan menjadi myopia simpleks, myopia progresif, dan  myopia maligna. Myopia dapat terjadi karena gangguan pada kekuatan optic kornea atau lensa ataupun yang lebih jarang karena kasial bola mata yang berlebihan. Myopia simplek adalah bentuk yang paling sering dan biasanya kurang dari 6 dioptri, tajam penglihatan dengan koreksi yang sesuai dapat mencapai keadaan normal. Myopia progresif dapat ditemukan pada semua umur dan mulai sejak lahir. Kelainan mencapai puncaknya saat masih remaja, bertambah terus sampai umur 25 tahun atau lebih. Besar dioptri melebihi 6 dioptri. Myopia maligna merupakan myopia patologik atau degenerative, karena di sertai dengan kelainan degenerasi di koroid dan bagian lain dari mata.

Berdasarkan derajat myopia dibagi menjadi ringan (1-3 dioptri), sedang (3-6 dioptri), atau berat (lebih dari 6 dioptri). Berdasarkan onset terjadinya myopia dibedakan menjadi congenital (terjadi pada bayi), myopia onset muda (pada pasien < 20 tahun), onset waktu dewasa muda (20-40 tahun), dan dewasa lanjut (> 40 tahun).

Faktor resiko terjadinya myopia adalah terdapat riwayat keluarga yang menderita myopia, terdapat myopia waktu retinoskopi nonsiklopegik pada bayi, penurunan emetropia waktu masuk sekolah, gangguan kurvatura kornea, aksis yang terlalu panjang, dan gangguan temporer retina waktu anak-anak.

Gejala yang paling banyak dikeluhkan adalah pandangan kabur. Penglihatan untuk jauh kabur, sedangkan penglihatan untuk dekat jelas. Jika derajat miopianya terlalu tinggi, sehingga letak pungtum remotum kedua mata terlalu dekat, maka kedua mata selalu harus melihat dalam posisi konvergensi, dan mungkin hal ini akan menimbulakan keluhan (estenovergen). Apabila terdapat myopia pada satu mata jauh lebih tinggi dari mata yang lain dapat terjadi ambliopia pada mata yang miopianya lebih tinggi. Mata ambliopia akan bergulir ke temporal yang disebut strabismus divergen (eksotropia).

Tanda yang di jempuai pada pemeriksaan untuk myopia simpleks adalah pada segmen anterior ditemui bilik mata yang dalam dan pupil yang relative lebar. Kadang-kadang ditemukan bola mata yang menonjol dan pada segmen posterior biasanya terdapat gambaran yang normal atau dapat disertai kresen myopia (myopic creasent) yang ringan disekitar papil saraf optic. Pada myopia patologik dapat dijumpai gambaran pada segmen anterior serupa dengan myopia simplek sedang gambaran yang ditemukan pada segmen posterior berupa kelainan-kelainan pada:

–          Badan kaca: dapat ditemukan kekeruhan berupa pendarahan atau degenerasi yang terlihat sebagai floaters, atau benda-benda yang mengapung dalam badan kaca. Kadang-kadang ditemukan ablasi badan kaca yang dianggap belum jelas hubungan nya dengan keadaan myopia

–          Papil saraf optik: terlihat pigmentasi peripapil, crescent myopia, papil terlihat lebih pucat yang meluas terutama kebagian temporal. Kresen miopi dapat keseluruh lingkaran papil sehingga seluruh papil di kelilingi oleh daerah koroid yang atrofi dan pigmentasi yang tidak teratur

–          Macula: berupa pigmentasi, kadang-kadang ditemukan pendarahn subretina pada daerah macula

–          Retina bagian perifer: berupa degenerasi kista retina bagian perifer

–          Seluruh lapisan fundus yang tersebar luas berupa penipisan koroid dan retina. Akibat penipisan ini maka bayangan koroid tampak lebih jelas dan disebut sebagai fundus tigroid.

Untuk mengoreksi myopia digunakan lensa cekung agar sinar jatuh tepat pada retina.

Astigmatisma

Merupakan sebuah keadaan dimana terjadi penglihatan yang kabur karena sinar dari arah berbeda-beda difokuskan pada titik yang berbeda. Hal ini disebabkan karena perbedaan kelengkungan kornea yang bervariasi. Astigmatisme ringan dapat tanpa gejala namun yang berat dapat menyebabkan penglihatan kabur, mata lelah, dan sakit kepala. Salah satu penyebabnya mungkin herediter dan semakin memburuk seiring berjalannya waktu.

3. Gejala dan tanda

Gejala utama gangguan refraksi adalah penglihatan yang kabur melihat objek jauh, dekat, atau keduanya. Terkadang tonus muskulus siliaris yang terlalu kuat dapat menyebabkan sakit kepala. Mata yang dipaksa untuk melihat dapat menyebabkan terjadinya iritasi mata, gatal, mata lelah, sensasi terdapat benda asing, dan kemerahan. Menyipitkan mata ketika membaca dan sering berkedip atau menggosok mata merupakan gejala gangguan refraksi pada anak. Penglihatan kabur harus didiagnosis banding dengan kelainan mata lainnya. Penglihatan kabur binocular dengan perbaikan jika melihat memakai lensa atau pinhole menunjukkan kelainan refraksi.

4. Diagnosis banding

Mata tenang visus menurun perlahan didiagnosis dengan katarak, glaukoma kronik, retinopati, ambliopia, retinoblastoma, dan toxoplasmosis.

5. Pemeriksaan

Untuk kelainan refraksi, pemeriksaan yang dilakukan adalah pemeriksaan visus, pengukuran koreksi terbaik untuk visus, dan keratometri untuk mengukur kelengkungan kornea yang biasanya dilakukan untuk koreksi penglihatan dengan lensa kontak.

Pemeriksaan rutin seperti pemeriksaan bagian eksternal mata, kedudukan dan gerakan bola mata, segmen anterior dan posterior hendaknya tetap dilakukan untuk mendeteksi adanya kelainan-kelainan lain.

Pemeriksaan visus

Dilakukan dengan memakai kartu snellen. Nilai tajam penglihatan normal adalah 6/6. Berarti pasien dapat membaca seluruh huruf dalam kartu snellen dengan benar. Bila baris yang dapat dibaca selanjutnya bertanda 30 maka maka dikatakan tajam penglihatan 6/30. Berarti ia hanya dapat melihat pada jarak 6 meter yang oleh orang normal huruf tersebut dapat dilihat pada jarak 30 meter. Bila dalam uji hitung jari pasien hanya dapat melihat atau menentukan jumlah jari yang diperlihatkan pada jarak 3 meter, maka dinyatakan tajam penglihatan 3/60. Jari terpisah dapat dilihat orang normal pada jarak 60 meter.

Orang normal dapat melihat gerakan atau lambaian tangan pada jarak 300 meter. Bila mata hanya dapat melihat lambaian tangan pada jarak 1 meter, berarti tajam penglihatan adalah 1/300.

Bila mata hanya mengenal adanya sinar saja tapi tidak dapat melihat lambaian tangan, maka dikatakan sebagai seper tak terhingga. Orang normal dapat melihat adanya sinar pada jarak tak terhingga, tetapi penderita melihat sinar dari jarak 1 meter.

Pemeriksaan visus secara objektif dapat dilakukan dengan automated refraction yaitu mesin yang mendeteksi kelainan refraksi dengan mengukur bagaimana perubahan sinar ketika memasuki mata. Penderita duduk di depan autorefractor, cahaya dihasilkan oleh alat dan respon mata terhadap cahaya diukur. Alat ini mengukur berapa besar kelainan refraksi yang harus dikoreksi dan pengukurannya hanya memerlukan waktu beberapa detik.

Koreksi visus

Dilakukan pada satu mata secara bergantian, biasanya dimulai mata kanan kemudian mata kiri, dilakukan setelah tajam penglihatan diperiksa dan diketahui terdapat kelainan refraksi


About this entry